Dongeng Peserta JKN-KIS, Obati Paru-paru Basah Anak Tanpa Biaya

Jakarta

Banyak orang yang beranggapan kalau terdaftar sebagai peserta Penerima Sandaran Iuran (PBI) di kelas III pada Program JKN-KIS akan mendapatkan pelayanan yang berbeda. Namun ternyata semua pelayanan dan manfaat dengan didapatkan tetap sama saja pedengan tidak ada perbedaan layanan secara segmen peserta lain bahkan secara kelas yang lebih tinggi. Perbedaannya hanya terletak pada jumlah wadah tidur saat rawat inap selalu.

Risni (47) awak Kelurahan Tanjung Aman Kecamatan Lubuklinggau Barat I adalah seorang pokok dari tiga orang anak & bekerja sendirian untuk menghidupi 3 orang anaknya. Saat melakukan pengobatan anaknya yang sakit Risni mengaku program JKN-KIS ini sangat berguna baginya.

“Awal bujang saya sakit ada gejala seperti sesak napas. Pertamanya diberi obat maag saja karena dikira kecil maag. Setelah anak saya langsung mengeluhkan sulit bernapas hingga tak bisa tidur, akhirnya saya bawa ke Puskesmas keesokan harinya. Pada Puskesmas diberi obat maag sebab dikira gejala maag. Sebab rasanya seperti sesak pada bagian ulu hati, ” cerita Risni tenteram keterangan tertulis, Selasa (8/12/2020).

Namun setelah tiga hari, tak ada perubahan berarti sehingga Risni pun kembali ke Puskesmas lagi untuk memeriksakan sakitnya. Dari Puskesmas ia diberikan rujukan ke sendi sakit untuk diperiksa lebih sendat.

“Saat periksa di rumah sakit dan di-rontgen, ternyata anak saya didiagnosa mengidap paru-paru basah dan harus segera dikeluarkan cairannya, ” lanjut Risni.

Ia tak menyangka dengan hanya berbekal kartu JKN-KIS itu seluruh pengobatan anaknya tidak melahirkan biaya sama sekali. Semua bea untuk berobat anaknya telah dijamin oleh BPJS Kesehatan.

“Saya menggunakan kartu JKN-KIS buat penyedotan cairan anak saya. Salah pastinya saya mencari biayanya jika tidak ada Program JKN-KIS. Saya merasa sangat terbantu adanya rencana ini, ” ujarnya.

Dari pengalamannya itu, Risni menyayangkan jika masih ada masyarakat dengan menganggap sulitnya menggunakan kartu JKN-KIS untuk berobat. Berbekal pengalaman anaknya berobat, Risni yang terdaftar sebagai peserta PBI tidak menemukan sandungan saat berobat.

“Kata orang, di rumah sakit dipersulit kalau kita menggunakan kartu JKN-KIS dari pemerintah. Setelah mengalami sendiri ternyata itu tidak benar sebab kami dilayani sangat baik di rumah sakit. Anak saya sekadar sampai lima hari rawat inap di rumah sakit. Setelah keluar pun masih bisa kontrol seminggu sekali. Bahkan sampai sembuh nyatanya kami tidak mengeluarkan uang setara sekali untuk pengobatan anak beta, ” pungkasnya.

(mul/mpr)